GHIBAH…… (atao menggosip)

April 21, 2010 rudeepoenya
Tag: ,

PENGERTIAN GHIBAH
ghibah adalah “Kamu menyebut tentang (kejelekan) saudaramu (sesama muslim) dengan sesuatu yang didalamnya terdapat perkara yang di benci “Adapun jika engkau menyebut tentang (kejelekan) saudaramu yang kenyataanya tidak terdapat pada dia, maka itu disebut “membuat kedustaan (Buhtan).” Rasulullah Shallallahu alahi wassalam bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah ra:
“Tahukah kalian apakah ghibah itu? “ Para sahabat menjawab : “Allah dan Rasul Nya lebih mengetahui” Rasulullah Shallallahu alahi wassalamBersabda : “(Ghibah itu adalah) perkataanmu tentang saudaramu dalam perkara-perkara yang dia benci.” Ditanya kepada Rasulullah Shallallahu alahi wassalam : “Bagaimana jika pada saudaraku itu benar ada perkara yang aku sebutkan tersebut ?” Beliau menjawab : “Jika ada padanya perkara yang engkau sebutkan itu, berarti kamu telah mengghibahnya, dan jika perkara tersebut tidak ada padanya berarti kamu telah membuat kedustaan terhadapnya.” (HR. Muslim)

Syaikh Salim Al – Hilaliy hafizhahullah Ta’ala menyebutkan di dalam kitabnya “Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhus Shalihin” Jilid 3 halaman 24 bahwa hadits ini menunjukkan tidak bolehnya membicarakan kejelekan kaum muslimin yang dia benci mendengarnya, sekalipun apa yang dibicarakan itu benar-benar ada padanya.
Imam Nawawi rahimahullah Ta’ala berkata didalam “AL – Adzkar” dalam rangka menerangkan tentang ghibah : “Adapun ghibah itu adalah kamu membicarakan seseorang didalam perkara-perkara yang dia benci mendengarnya, baik itu tentang badannya, agamanya, dunianya, jiwanya, penciptaanya, akhlaqnya, hartanya, anak-anaknya, orang tuanya, istri/suaminya, pelayannya, budak yang dia miliki, imamahnya (sorbannya), pakaiannya, cara berjalannya, gerak-geriknya, wajahnya, perbuatannya yang mengumbar nafsu, cemberutnya, perceraiannya, atau yang selai itu dari perkara-perkara yang berhubungan dengan orang yang dibicarakan; baik kamu ucapkan langsung atau kamu tulis di dalam kitabmu, atau kamu berisyarat kepadanya dengan matamu atau tanganmu atau kepalamu atau yang semacamnya.
Ghibah tentang badan misalnya kamu berkata tentang seseorang : si buta, si pincang, si mata rabun, si botak, si pendek, si tinggi, si hitam, si kuning.
Ghibah tentang agama misalnya ucapanmu tentang seseorang : si fasiq, si pencuri, si pengkhianat, si zhalim, yang meremehkan sholat, yang bermudah-mudah dengan najis, yang tidak berbakti kepada orang tuanya, yang tidak mengeluarkan zakat, yang tidak menjauhi ghibah.
Ghibah terhadap seseorang tentang dunianya misalnya ucapanmu ; si kurang adab, yang meremehkan manusia, yang banyak bicara (cerewet), yang banyak makan (rakus) atau tukang tidur, yang tidur bukan pada waktunya, yang duduk bukan pada tempatnya.
Ghibah tentang orang tua orang yang di ghibahi misalnya ucapanmu ; ayahnya fasiq, atau ayahnya orang India, ayahnya rakyat jelata, ayahnya negro atau ayahnya tukang sepatu, ayahnya penjual kain, ayahnya pedangan budak, ayahnya tukang kayu, ayahnya tukang besi atau ayahnya tukang tenun.
Ghibah yang berhubungan dengan akhlaq, misalnya ucapanmu : Akhlaqnya jelek, dia angkuh, sembrono, diktator, lemah hati, sombong, atau dia suka cemberut dan semacamnya.

Ghibah yang berhubungan dengan pakaian, misalnya ucapanmu : yang luas lengan bajunya, yang panjang ujung bajunya, yang bajunya kotor, dan semacamnya.
Kaidah dalam masalah ghibah ini adalah : “Setiap perkara yang kamu beritahukan kepada orang lain berupa kekurangan seorang muslim, maka itu adalah ghibah yang diharamkan.”

HUKUM GHIBAH

Para ahli ilmu sepakat mengatakan bahwa ghibah haram hukumnya atas setiap orang, sebab keharamannya sangat jelas disebutkan di dalam Kitabullah dan Sunnah RasulNya yang Shohih. Allah Ta’ala berfirman :
“ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing (mengghibah) sebagiaan yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat Lagi Maha Penyanyang”. (QS. AL – Hujurat : 12)

Dan Berfirman :
“ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf : 18)

Rasulullah Shallallahu alahi wassalam bersabda :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau hendaknya dia diam.”
(Hadits Shohih disepakati oleh Imam Bukhori dan (Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu)

Dan Rasulullah Shallallahu alahi wassalam bersabda di dalam hadits Abu Musa radiyallahu anhu, bahwasanya dia berkata “ Wahai Rasulullah, siapakah muslim yang paling baik? “ Beliau menjawab : “Muslim yang paling baik adalah muslim yang kaum muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (Muttafaqun’alih)

Rasulullah Shallallahu alahi wassalam juga bersabda (yang artinya) :
“Sesungguhnya seorang hamba sungguh akan berbicara dengan suatu kalimat yang dia masih fikirkan apakah itu baik atau tidak, kemudian dengan ucapannya itu dia terjatuh kedalam Neraka Jahannam lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (Muttafaqun’alaih)
HARAM MENDENGARKAN GHIBAH

Berkata Imam Nawawi di dalam “Al-Adzkar” : “Ketahuilah bahwa sebagaimana halnya melakukan ghibah itu haram, demikian pula haram hukumnya mendengarkan ghibah lalu mendiamkannya. Maka wajib atas orang yang mendengar ghibah yang diharamkan untuk melarangnya jika dia tidak khawatir akan terjadi bahaya atas dirinya. Jika dia khawatir, maka wajib atas dia untuk mengingkarinya dengan hati dan meninggalkan tempat tersebut kalau memungkinkan. Demikian pula kalau dia mampu mengingkari dengan lisannya atau melalui perantara ucapan orang lain, maka dia harus melakukannya, sebab jika tidak, dia dianggap telah turut bermaksiat. Namun kalau dia telah mengingkari ghibah tersebut tetapi tidak diterima pengingkarannya, dan tidak memungkinkan bagi dia untuk meninggalkan tempat itu, maka haram atasnya mendengarkannya dengan penuh perhatian. Bahkan hendaknya dia menyibukkan diri berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan lisan dan hatinya, atau dengan lisannya saja, atau dia menyibukkan fikirannya kepada perkara-perkara lain sehingga fikirannya bisa terhindar dari ghibah.
Allah Ta’ala berfirman
“Dan jika kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS. AL An- ‘Aam : 68)

Allah Ta’ala juga berfirman :
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya.” (QS. AL – Qoshosh : 55)

Dan firman Nya Tabaaraka Wa Ta’ala :
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al – Israa : 36)

Rasulullah bersabda di dalam hadits Abu Darda’ Radiallahu anhu :
“Barangsiapa yang menghindarakan gangguan terhadap kehormatan saudaranya, maka Allah akan menghindarkan wajahnya dari api neraka pada hari kiaman.” (Hadits Shohih atau hasan, dikeluarkan oleh Imam At – Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya)

Bersambung…………

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: